Belajar Kepada Argentina?

Kita harus belajar kepada Argentina. Negara yang kaya dengan pemain bola berbakat itu, kini telah mampu keluar dari masalah ekonominya. Berhasil bangkit setelah menolak atau bahkan mengusir IMF. Masalah di negeri itu, sebelumnya sangat pelik dalam masalah ekonomi. Keadaan pahit yang mengacaukan ekonomi Negara itu, pelan-pelan mulai menggeliat sejak pemimpin negeri itu mengambil keputusan politik tidak mau didikte IMF. Dibawah kepemimpinan Presiden Nestor Kirchner, sejak tahun 2001 Argentina bangkit dan kini sangat mengagumkan.


Kunci keberhasilan Argentina adalah tidak mau menerima advice atau didikte IMF. Masalah di negerinya Maradona itu, sebelumnya memang pelik. Tidak mampu membayar hutang luar negerinya yang menumpuk, rakyatnya bergolak akikat keadaan social ekonomi dan politik. Kondisi ekonomi yang sulit, kemudian diterapkan kebijakan pengurangan anggaran di sana-sini, mengantarkan negeri yang sebelum perang dunia kedua kemakmurannya setara dengan Perancis itu, berujung kepada krisis social dan politik yang berkepanjanngan. Terjadi kudeta berkali-kali, tak urung membuat kondisi social ekonomi bertambah ambruk.

Apa yang dialami Argentina, hampir setara yang terjadi di negeri ini. Selama bertahun-tahun negeri itu memanng mengalami salah urus, militer tampil dalam tampuk kepemimpinan politik, KKN merajalela di sana sini sebagai akibat dari keberadaan oligarkhi. Sekelompok elit, elit yang memegang kuasa politik berselingkuh dengan pebisnis. Pebisnis, elit politik dan militer berselingkuh dalam segala sector kehidupan social politik dan ekonomi. Akibatnya, posisi masyarakat Argentina tidak dianggap dalam konteks kebijakan social, politik dan ekonomi negeri. Tak heran kemudian apabila terjadi penyelahgunaan kekuasaan di sana-sini, dan hampir-hampir tidak memiliki jalan keluar dari keadaan buruk di berbagai bidang kehidupan. Sementara hutang kepada kreditor luar negeri menumpuk mencapai 125 miliar dollar AS.

Hampir-hampir tak ada jalan keluar. Problemnya berlipat-libat dai berbagai level.
Korupsi di kalangan politisi yang merajalela, kemudian pada aras internasionalnya, sikap kreditor internasional yang tidak mau tahu. Rakyat protes yang tak jarang berujung dengan jatuhnya nyawa.

Bukan suatu yang mudah memang. Keberhasilan Argentina berangkat dari sikap politik yang tegas, yaitu menolak pembayaran utang luar negeri dan menolak saran dan keterlibatan IMF. Kini, rakyat Argentina telah menuai dan menikmati hasil dari kebijakan politik pemimpinnya. Pendapatan Domestik Bruto (PDB)nya, kini sebesar 212 miliar dollar AS dan pendapatan per kapita 6.500 dollar AS. Hutang luar negerinya pun kini mulai dibayar kembali.
****

Kunci keberhasilan Argentina adalah keberanian politik untuk menolak IMF yang reputasinya telah terbukti dalam menangani krisis di Amerika Latin. IMF selalu memberi saran dengan kebijakan-kebijakan “pengejut” dalam bidang kebijakan ekonomi.
Kita tentu masih ingat, saat kali pertama IMF diundang sebagai dewa penolong untuk mengatasi krisis ekonomi pada tahun 1997. Strategi “exit policy” yang diterapkan yang kemudian diakui sendiri oleh IMF sebagai telah salah diagnonis dan salah obat. Kesalahan itu, kemudian harus berujung kepada amputansi bagi perekonomian negeri ini.
Ada tiga kebijakan yang membuat krisis negeri ini pada tahun 1997 itu semakin parah. Kebijakan yang mengantarkan pertumbuhan ekonomi menjadi terjun bebas, menjadi minus 13% pada tahun. Pertama, kebijakan stabilisasi keuangan yang malah membuat destabilisai dan kebangkrutan. Kebijakan pengetatan keuangan ini membuat suku bunga antar bank naik bak meteor dari 20% menjadi 300%. Langkah likuidasi beberapa bank tanpa persiapan yang matang, membuat kepercayaan masyarakat kepada perbankan turun drastic dan memicu terjadinya rush dan capital outflow, yang berimplikasi kepada jatuhnya nilai rupiah.

Demikian juga kebijakan pengalihan utang swsta menjadi utang public. Saran IMF ini yang membuat utang domestic pemerintah menjadi menjadi besar. Pemerintah kemudian keberatan dengan utang dan akibatnya terjadi pengetatan angggaran dan pengurangan subsidi di mana-mana, sebab sebagian besar dialokasikan untuk membayar cicilan utang luar negeri. Post untuk mebayar cicilan utang luar negeri setara dengan tiga kali anggaran untuk menggaji PNS dan TNI. Jelas pendapatan Negara menjadi deficit, dan untuk mengatasinya, disaran untuk melakukan beberapa kebijakan. Diantaranya menaikkan pajak, tariff dasar listrik, BBM dan menjual asset-aset BUMN.
Semua kebijakan itu, ujunngnya sangat memberatkan public, memberatkan masyarakat, rakyat kecil umumnya.
****

Bangkitnya Argentina, sekali lagi mengkonfirmasi jurus-juru kebijakan kejutan yang selalu disarankan IMF dalam mengatasi kriris di berbegai Negara sebagai tidak terbukti. Kebijakan yang dratis, radikal, liberalisasi secara frontal membawa dampak psikologis yang akan berujunng pada destabiliasi social politik.

Ada baiknya memang kita mencoba membanding-bandingkan, apa yang kisah sukses yang dialami Argentina dengan yang terjadi di negeri ini. Selama ini kita menjadi anak asuh kepada IMF, tetapi perubahan juga ekonomi juga tidak terlalu cepat.
Ya, barangkali kita harus belajar kepada Argentina. Ke Argentina, kita bukan hanya belajar bagaimana menjadi pemain bola. Akan tetapi juga harus belajar bagaimana pemimpinnya berani berkata tidak kepada lembaga kreditor internasional.

Ellyasa KH Darwis
Edisi cetak pada OpiniIndonesia, 073 5-11 Nop 2007

7 komentar:

daeng limpo said...

Yang kita kejar adalah ketertinggalan fisik, tetapi ketertinggalan mental yang demikian jauh tidaklah mendapatkan pembinaan yang memadai. Maka seperti menyiram garam kelautan dan menegakkan benang basah. Sia-sia. Pesimisnya gitu lho.
Optimisnya kalau pemimpin agama sadar dan menyadarkan masyarakat secara intens mudah-mudahan Indonesia kedepan jauh lebih baik. Jangan sampai para nabi palsu mengambil alih tugas anda.

titanisa said...

gak komen juga gak papa kan ya Bang? yang penting...keduax..!! hehe...

GusKoko said...

Indonesia sekarang ini sebenarnya cuma jalan ditempat, gimana kelanjutannya ? Tanyakan pada ........

Joell de Franco said...

Saya setuju banget, pernah kepikiran pula ngangkat topik ini buat dibikin postingan...semoga pemerintah kita baca blog ini,kuncinya ada pada ketegasan pemerintah untuk gak tergantung ma pihak laen..!!!hidup Indonesia!!!!!!

Irma said...

Yup, Kalau saja kita punya keberanian seperti argentina. Seingat saya, indonesia kan kaya dengan sumber daya alamnya tapi kenapa kita mesti utang sana atau utang sini atau mungkin kita mesti belajar dari bung safir senduk bagaimana caranya bisa mengelola keuangan dengan baik sehingga utang bisa dihindari. :-)

CempLuk said...

Moga Indonesia bisa bangkit dan sukses..amin

LifeByYourHand said...

endonesia paling seneng belajar tapi kalo di suruh praktek..jawabnya " ogah ach.."

Network