Open House dan Safari Politik

Presiden Susilo Bambang Yudoyono (selanjutnya disingkat SBY ) menggelar Open House sementara Wakil Presiden Jusuf Kalla rajin melakukan safari idul fitri. SBY membuka pintu gerbang dan ruang tamunya untuk warga yang hendak melakukan silaturahmi di rumahnya Puri Cikeas, pada moment yang sama Jusuf Kalla rajin melakukan kunjungan ke tokoh-tokoh/elit politik. SBY menggunakan momentum lebaran untuk silaturahmi dengan masyarakat sementara JK menggunakan untuk safari mengunjungi elit-elit politik. Maneuver politik di hari raya idul fitri untuk kepentingan politik masing-masing?

Open house merupakan wahana untuk melakukan komunikasi langsung dengan masyarakat yang datang atau diundang. Masyarakat yang memanfaatkan kesempatan ini bisa berjabat tangan, bersilaturahmi dan saling meminta maaf dengan presiden. Di sini, wujud ekspesi politik perhatian sedang dipertunjukkan oleh SBY terhadap masyarakat. Pada tataran ini, open house bisa dimaknai sebagai symbol dari kepedulian dan perhatian elit terhadap masyarakatnya.

Demikian juga kegiatan safari atau road show yang dilakukan oleh JK. Safari ke beberapa tokoh, dari mantan presiden Suharto, mantan Waprpes Hamzah Haz, Mantan Ketua DPR RI Akbar Tanjung yang juga seteru politiknya di Golkar, dan beberapa tokoh lain. JK tampak segera dibaca tengah memanfaatkan momentum lebaran untuk komunikasi politik, yang dalam kadar serta intensitas tertentu sangat mudah dibaca bahwa JK sedang konsolidasi dan mungkin juga sedang meminta restu untuk kepentingan politiknya pada tahun 2009 nanti. JK sedang membangun kesan dirinya bisa komunikasi dengan banyak pihak, termasuk lawan politiknya maupun terhadap mantan penguasa Orde Baru.

****

Open House dan Safari politik, memang dua kosa kata yang masuk ke dalam kamus politik di negeri ini. Open House popular di negeri ini pada saat reformasi politik 98. Tokoh politik yang berada di luar Negara kala itu, Gus Dur, di rumahnya di kawasan Warung Sila Ciganjur membuka rumahnya untuk masyarakat. Masyarakat kemudian mengkomunikasi berbagai masalah yang dilihat, dialami dan dirasakan serta dipikirkan kepada Gus Dur. Oleh karena itu, open house merupakan kegiatan komunikasi politik di tengah-tengah atau pada saat institusi politik resmi tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Kalangan yang tidak setuju dengan kegiatan open house yang dilakukan Gus Dur itu, menyebutnya sebagai politisasi agama. Kegiatan yang memanfaatkan momentum hari raya idul fitri untuk kegiatan politik praktis. Sementara para pengamat politik menyebut sebagai merupakan eksperimen untuk menciptakan satu model komunikasi politik yang selama ini tidak terjadi, yaitu komunikasi antara masyarakat awam dengan elit politik.

Sementara istilah safari politik, usianya lebih lama. Istilah safari politik sangat menguat dan mengental jika tidak salah, saat Harmoko menjadi Ketua Umum Golkar. Ia gencar melakukan perjalanan untuk konsolidasi di daerah-daerah dengan rombongon yang banyak. Pada saat bulan Ramadhan, dirinya sangat rajin dan gencar melakukan kunjungan politik dengan dua orientasi. Pertama, pada daerah basis Golkar, kegiatan itu bermakna untuk memperkokoh atau memperkuat basis akan semakin kuat. Kedua, jika kegiatan itu dilakukan di daerah bukan basis, artinya ia sedang melakukan upaya untuk merebut basis lawan. Setelah kunjungan itu, kemudian mesin-mesin politik Golkar dengan tiga jalurnya yang terkenal akan bekerja. Hasilnya, bisa kita lihat dalam Pemilu 1987, Partai Golkar mencapai puncak kemenangan tertinggi dalam sejarahnya dan mengantar Harmoko menjadi kedua DPR/MPR. Sayangnya, kemenangan yang salah satunya dari hasil kerja safari politik itu artificial. Produk politik hasil Pemilu 1997 kehilangan legitimasinya dan jatuh oleh gerakan reformasi 1998.

Pada zamannya, safari Ramadhan merupakan kegiatan yang efektif dan efesien untuk mendongkrak basis dukungan Golkar. Tentu, lagi-lagi harus dicatat, bukan karena kegiatan Safarinya itu sendiri, karena kegiatan paskanya itulah yang menentukan. Monoloyalitas birokrasi dan jalur ABRI kemudian bekerja di lapanngan untuk menaikan suara.

****

Pertanyaannya kemudian, bagaimana membaca open house presiden SBY dan safari lebarannya Wakil Presiden JK pada lebaran minggu lalu? Apa yang sedang dilakukan oleh kedua elit politik itu? Argumen yang dapat dibaca oleh publik adalah bahwa kegiatan itu tidak ada kaitannya dengan politik. Kegiatan itu murni ibadah dengan memanfaatkan momentum hari raya idul fitri.

Pilihan Presiden SBY membuat kegiatan Open House menunjukkan bahwa dirinya berada dalam posisi yang cukup kuat. Oleh karena itu yang dilakukan adalah kegiatan simbolik yang bisa menggambarkan dirinya dekat dan didukung oleh rakyat. Wajar kemudian apabila kegiatan open house yang dipilih. Sementara Wapres JK, sedang menunjukkan kalau dirinya bisa berkomunikasi dan diterima oleh semua pihak baik kawan maupun lawan politiknya.

Open House dan Sapari Lebaran, memang kegiatan yang terkait dengan hari raya idul fitri. Semua orang memanfaatkan untuk saling maaf memaafkan, menjalin kembali silaturahim. Momentum para elit politik untuk menunjukkan perhatian politiknya kepada rakyat pada satu sisi, pada sisi lain, juga merupakan momentum elit politik untuk melakukan silaturahmi dengan elit politik yang lain. Semua untuk kepentingan PEMILU dan PILPRES 2009? Wallahu A’lam.

Ellyasa KH Darwis
Versi Cetaknya di muat Opini Indonesia
Edisi 72, 29 Oktober-4 Nop 2007

7 komentar:

andi bagus said...

lagi lagi itu merupakan ajang ber politik ria..

daeng limpo said...

setiap politikus melangkah adalah langkah politik. Adakah dari langkah politikus kita yang benar-benar murni untuk silaturrahmi atau hanya silatpolitik, termasuk Bp. SBY dan Bp. JK. Who Know?

GusKoko said...

Open House dan Safari Idul Fitri itu syah2 saja dan wajar.
Tapi sebenarnya yang ditunggu oleh rakyat adalah kerja keras dan ke-serius-an SBY & JK untuk memajukan per-ekonomian. Jangan cuma janji saja, jangan hanya "tebar pesona" saja. Sebenarnya SBY & JK mampu atau tidak atau cuma "omdo" = omong doang ?

isnuansa_maharani said...

@ Gus Koko: Wah, "pengikut"nya Mbak Mega ya Gus? kok pake istilah tebar pesona?

@ Gus Ellyasa: Kalo Megawati mulai tanggal 28 Oktober 2007 nanti mulai "turun ke bawah" yang bertajuk MEGAWATI MENYAPA RAKYAT, itu termasuk safari politik bukan Gus?

-Sori ngiklan di sini, hehe-

Joell de Franco said...

Semoga saja(ini saya berkhuznuzon sama beliau berdua) apa yang dilakukan Pak SBY dan Pak JK adalah murni semata-mata untuk mempererat tali silaturrahmi. Andaikan nanti ada efek politis dari kegiatan tersebut, ya itung-itung sebagai bonus karena telah berbuat baik(mempererat silaturrahmi).

A Yustiawan said...

ya...apapun yang mau "beliau-beliau" lakukan silahkan aja....Mau open house, safari romadhon, tebar pesona...atau lah apapun juga..yang terpenting adalah bagaimana rakyat negri ini bisa tahu yang mana yang beneran, yang mana yang cuman artifisial belaka...dan blogger punya potensi loh...untuk bisa bantu bikin masyarakat mengerti....

GusKoko said...

Wah saya enggak pernah memihak kemana mana, jangankan partai politik, ormas-pun saya tidak ikut2, makanya sampai sekarang enggak pernah kebagian "kue tart".
Eh kabar terkahir, SBY mengeluarkan album lagu ciptaannya. Jangan2 pertanda bahwa dia tidak akan terpilih lagi jadi Presiden ?

Network