Bertarung Di Ruang Publik, Dari Simbol Sampai Jargon

Ada dua aktivitas yang jarang saya lalukan. Yaitu ke luar rumah dan nonton TV. Dengan alasan yang berbeda-beda tentunya., jarang ke luar memang karena tak aktivitas yang dilakukan di luar. Tidak nonton TV karena memang tidak suka acaranya, kecuali acara F1 dan Moto GP. Wajar kemudian apabila saya sangat ketinggalan dalam penggunaan media sebagai wahana untuk pencitraan para Capres dan Cawapres. Demikian juga jarang keluar rumah, membuat saya minim informasi apa yang terjadi di jalan.

Hari Selasa kemarin saya ke Jakarta. Saya baru sadar kalau banner, baligo dan spanduk mulai bertebaran. Tampak pula, secara halus mulai saling serang. Sebagai pihak yang bertahan SBY-Budiyono masih belum tampak menyerang. Sementara JK-Win, mulai menyerang secara halus. Banner SBY-Budiyono “Terus Berjuang Untuk Rakyat: Lanjutkan” misalnya, dijawab relawan-relawan JK-Win dengan begini “JK-Win: Yang Berani dan Tegas Yang Berhak Melanjutkan”. Hal yang sama Iklan Keberhasilan Swasembada Beras yang kemudian melalui iklan di TV mulai direbut orbitnya oleh JK. Hal yang sama juga Kebijakan Soal BLT, dan Konpensasi Minyak Tanah. Dalam satu acaradi TV JK dengan lantang membeberkan perannya. Bahasanya meledek “Kalau Ada Keputusan Wapres, pasti nama saya tercantum di situ”.

Tampak sekarang yang sedang head to head itu SBY-Budiyono vs JK-Win dalam bermain di ranah ruah public dengan memainkan tanda dan icon politik. Sementara pasangan Mega-Prabowo, masih belum terlalu menyerang SBY-Budiono. Mungkin sedang menunggu momen yang tepat untuk melakukan hal yang sama.

Kemudian saya bertanya. Jika ditanyakan siapa yang paling kerja keras dalam PILPRES sekarang ini? Salah satunya pastilah tim pencitraan. Tim inilah yang merumuskan berbagai hal. Mempertimbangkan dan mengcreate segala aktivitas pasangan Capres dan Cawapres berdasarkan konsep dan rasionalitas tertentu. Pencitraan belangan ini menjadi suatu yang penting dalam kancah politik di negeri ini. Berbagai skeneria penampilan rumuskan agar pasangan capres dan cawapres menjadi sosok yang menjelma sebagai yang paling dikehendaki oleh pemilih.

Bagaimana mengeksploitasi habis-habisan seluruh keunggulan dan bagaimana menutup rapat-rapat berbagai kelemahan yang melekat, menjadi kerja utama dari tim ini. Memang dalam kadar serta intensitas tertentu, memang ‘menipu’. Kesadaran massa digiring sedemikian rupa sehingga semua tampak menjadi putih dan mempesona. Penuh busa-busa memang kadang-kadang, tetapi itulah hiperrealitas yang sedang dibangun.

Beberapa minggu ini, kita sedang disodori itu sebagai menu harian. Baik di jalan-jalan melalui banner dan balighio, maupun saat kita sedang menonton TV, media massa, maupun media on line. Tak kalah serunya juga pencitraan yang dilakukan secara under ground. Berkembang dari mulut ke mulut kapanpun dan di manapun. Pasangan Capres dan Cawapres, tengah masuk ke dalam otak kita tanpa disadari. Menyusup dalam regala relung dan renuh kesadaran. Tanpa sadar kita bisa terbuai, bagaimana tidak semua menampilkan dirinya sebagai sosok yang ramah, santun, jujur, dermawan, manusiawi, pahlawan, religius, serta berbagai atribut kebaikan lainnya, Inilah satu yang sedang kita hadapi sekarang. Meski pun kita sadar bahwa apa yang ditampilkan itu belum tentu "realitas politik" nyata, Atau bisa jadi Cuma simulasi yang berbeda dengan politik di ruang nyata.

Inilah era politik media. Siapa yang memiliki media, atau memiliki kemampuan untuk memanfaatkan media akan merasuk ke dalam sukma pemilih. Satu era dimana tanda, citra, dan tontonan memang memainkan peranan penting dalam menentukan sebuah pilihan, preferensi, dan keputusan politik. Bahayanya memang jika berlebihan aka nada resistensi. Pencitraan yang dilakukan secara kasar, menyerang secara vulgar terhadap competitor akan membuat yang bersangkutan ditinggalkan oleh masyarakat. Oleh karena itu, memang pencitraan tetap harus berpijak pada dunia nyata, khususnya terkait dengan kompetensi, kecakapan, dan keterampilan politik elite yang bersangkutan.

Terlalu berlebihan menonjolkan diri, juga tidak baik. Akan dianggap sebagai keponggahan. Dan salah-salah bukannya simpati yang didapat tetapi bisa dianggap sebagai berlebihan yang bisa dianggap juga sebagai menipu masyarakat. Pastilah masyarakat jeli, matang dan oleh karena itu, kesesuaian antara citra politik dengan realitas politik yang dialami oleh politisi dalam kehidupan nyata.

Masing-masing pasangan Capres dan Cawapres, kini tentu sedang mengeksploitasi ruang publik dengan tanda atau simbol yang paling efektif untuk menaikkan citra mereka di depan rakyat Indonesia. Kita bisa melihat dari pilihan tempat deklarasi. Tempat yang dipilih pun dengan sendirinya sudah mencerminkan kedigdayaan kepemimpinan mereka. Termasuk di sini pemakaian simbol-simbol penggunaan gedung mewah Sasana Budaya Ganesha (Sabuga) ITB, Bandung, Tugu Proklamasi, dan tempat pembuangan akhir (TPA) Bantar Gebang.

Pemlihan tempat itu jelas mencerminkan symbol atau bagian persaingan politik yang mereka gelorakan. Masing-masing pasangan tentu menyadari persaingan politik bukanlah sekadar rebutan massa, tetapi juga menggunakan ruang publik tempat segala simbol memiliki peran sangat penting.

Pendeklarasian pencalonan Megawati Soekarnoputri dan Prabowo Subianto di Bantar Gebang. Ini bukan hanya merupakan pesta politik biasa, tetapi telah menjadi peristiwa yang dramatis dan puitis. Mega dan Prabowo tidak perlu ngomong pun, pesan-pesan mereka sudah sampai, yakni keduanya ingin menjadikan wong cilik sebagai konstituen.

Sementara Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Boediono saat mendeklarasikan pencalonan di tempat mewah dengan setting dan bentuk upacara gegap gempita menyerupai pencalonan Obama, orang juga segera dibaca banyak kalangan alur ideologinya.

Pilihan Tugu Proklamasi oleh Jusuf Kalla-Wiranto. Mengungkapkan pesan ideologis bahwa ditempat inilah proklamasi kemerdekaan diucapkan. Lebih-lebih dikaitkan dengan idiom mereka untuk Indonesia yang mandiri. Jelas, pilihan itu suatu yang simbolik. Pemilihan Tugu Proklamasi pastilah ada maksud, bisa jadi dikaitkan dengan idiom nya untuk kemandirian Indonesia.

Catatan ini pastilah sangat elementer l dan dangkal. Maklum ditulis orang rumahan yang tak suka acara TV apalagi ngerumpi ke luar rumah.

6 komentar:

Lukisan Abstrak said...

tulisan yang bagus...

buat masyarakat agar lbih cerdas & selektif dalam memilih capres mndatang, jangan sampai tertipu oleh pencitraan yang da saat ini...

orang berjualan slalu di tampilkan yang baik-baik...

siapun yang terpilih berharap bisa amanah & membawa kemajuan untuk negri ini...

Siais said...

Nice post nih....

Pemilih yang baik adalah pemilih yang mencari yang paling baik dari kumpulan orang2 terbaik...

jangan lupa y dukung n komen di http://www.ais-story.co.cc/2009/06/stop-dreaming-start-action.html

dhimas said...

yah gitulah bos kalo orang da maonya, bisa aja mempromosikan diri, alias mo cari benernya dewe, ya smoga ja 'ntar siapaun yg menang rakyat tetap diutamakan healthlovemoneyand family

opiniherry said...

Saya kadang berpikir, untuk jadi presiden di republik ini lebih dipengaruhi "marketing communication" daripada program kongkrit dan srategis...

Baru kemarin saya ngobrol sama ibu 2x yg jadi penggemar berat seorang capres. Alasannya hanya karena penampilan yg gagah. "Lebih pantes dilihat kalau jadi presiden", katanya. Kalau si "anu" mah...cemeen...!

Tapi waktu saya pancing soal harga sembako dan kelangkaan minyak, si ibu bilang, "Emang sekarang apa 2x serba tambah susah...!"

Nah lho...

Hanif said...

wah, soal politik yah? saya sebenernya gak begitu ngerti, soalnya banyak yang disembunyikan dari kenyataan, jadi memutar balikkan fakta nih, hehe, http://backtwogreen.blogspot.com

rental mobil di surabaya said...

thanks buat infonya

Network